:: Selamat Datang di Jendela Informasi Lembaga Falakiyah PBNU ::
WARTA
 
Satu metode pengukuran arah kiblat yang paling populer adalah metode kompas magnetik. Metode ini berbasis pada kompas magnetik sebagai instrumen utama untuk menunjukkan arah utara-selatan. Kompas bekerja berdasarkan garis-garis gaya magnetik Bumi yang menjulur dari kutub-kutub magnetis Bumi. Dan ritme kerja garis-garis gaya magnetik Bumi akan sangat terganggu manakala terjadi peristiwa badai Matahari. Tepatnya saat partikel-partikel badai Matahari tiba di Bumi dan menghasilkan badai geomagnetik. Akibatnya arah jarum kompas dapat bergeser hingga beberapa derajat dari normalnya, membuat pengukuran arah kiblat dengan metode kompas magnetik tak bisa dilakukan.
Selengkapnya ... diposting oleh : 'Marufin'
Satu metode pengukuran arah kiblat yang paling populer adalah metode kompas magnetik. Metode ini berbasis pada kompas magnetik sebagai instrumen utama untuk menunjukkan arah utara-selatan. Kompas bekerja berdasarkan garis-garis gaya magnetik Bumi yang menjulur dari kutub-kutub magnetis Bumi. Dan ritme kerja garis-garis gaya magnetik Bumi akan sangat terganggu manakala terjadi peristiwa badai Matahari. Tepatnya saat partikel-partikel badai Matahari tiba di Bumi dan menghasilkan badai geomagnetik. Akibatnya arah jarum kompas dapat bergeser hingga beberapa derajat dari normalnya, membuat pengukuran arah kiblat dengan metode kompas magnetik tak bisa dilakukan.
Selengkapnya ... diposting oleh : 'Marufin'
Rukyah hilal awal Ramadhan 1438 H digelar LFNU dengan hisab menunjukkan tinggi Bulan di Indonesia berkisar antara 6º hingga 8,62º. Terdapat 125 titik rukyah yang berpartisipasi dalam aktivitas ini yang tersebar di seluruh Indonesia, yang berada di bawah koordinasi Lembaga Falakiyah PBNU. Dari 125 titik tersebut, lima diantaranya melaporkan terlihatnya hilal baik dengan teleskop maupun mata telanjang. Rukyah hilal kali ini juga ditandai dengan mulai beroperasinya sistem live-streaming rukyah, antara titik-titik rukyah tertentu dengan Gedung PBNU di Jakarta. 
Selengkapnya ... diposting oleh : 'Marufin'
Munas Alim Ulama NU di Cipanas (Jawa Barat) tahun 1954 menghasilkan keputusan yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Yakni mengenai Waliyyul Amri ad-Dloruri bis Syaukah. Salah satu implikasinya adalah soal penetapan awal bulan dalam sistem penanggalan berdasarkan Bulan (Qamariyah), terutama di tiga bulan penting dalam Ibadah umat Islam, yakni Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Para ulama menyerahkan kedaulatan penetapan awal bulan kepada pemerintah Indonesia yang sah. 
Selengkapnya ... diposting oleh : 'Anam'

Dua perukyat andalan LFNU berhasil mengabadikan Bulan sabit tua atau hilal tua akhir Sya'ban 1438 H dari dua lokasi berbeda. Masing-masing adalah Mutoha Arkanuddin (Lembaga Falakiyah PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta) dan Joko Prasetiyo (Lembaga Falakiyah PCNU Kudus).

Hilal tua merupakan terminologi baru dalam khasanah ilmu falak. Hilal tua merupakan 'pencerminan' atau analogi terhadap hilal, dimana keduanya sama-sama memiliki sifat fisis serupa. Yakni terlihat sebagai lengkungan sabit yang sangat tipis dengan latar belakang langit yang terang secara gradual di saat Matahari tidak menampakkan diri. Hilal tua selalu muncul di saat fajar kala Matahari belum terbit dan belum terjadi ijtima' (konjungsi Bulan-Matahari). Hilal tua selalu muncul di akhir sebuah bulan Qomariyah. Sebaliknya hilal hanya muncul di kala senja, saat Matahari sudah terbenam dan telah terjadi ijtima'.

Selengkapnya ... diposting oleh : 'Marufin'
DAFTAR WARTA
Tahun 2017
Tahun 2013
 
Waktu Shalat
Jakarta (WIB)
Senin, 16 Desember 2019
Shubuh : 04:10
Dhuha : 05:54
Dzuhur : 11:50
Ashar : 15:17
Maghrib : 18:05
Isya : 19:20
     
Fase Bulan
19 Rabi'ul Akhir 1441 H
Fase Bulan
Tiga Perempat Bulan dan Menurun (Waning Gibbous)
 
Facebook Falakiyah PBNU di Facebook
Twitter Tweet PBNU terbaru
   
Bantuan   Tentang Kami   Versi Website   Pengunjung   Login

Akses website ini sebanyak
117.188
Sejak Maret 2017

Copyright - 2017
v.1.0


Top