:: Selamat Datang di Jendela Informasi Lembaga Falakiyah PBNU ::
Detail Warta
Kembali      
   
Judul : Mengevaluasi Aktivitas Rukyah Hilal Awal Ramadhan 1438 H
Penulis : Marufin
Isi Potongan : Rukyah hilal awal Ramadhan 1438 H digelar LFNU dengan hisab menunjukkan tinggi Bulan di Indonesia berkisar antara 6º hingga 8,62º. Terdapat 125 titik rukyah yang berpartisipasi dalam aktivitas ini yang tersebar di seluruh Indonesia, yang berada di bawah koordinasi Lembaga Falakiyah PBNU. Dari 125 titik tersebut, lima diantaranya melaporkan terlihatnya hilal baik dengan teleskop maupun mata telanjang. Rukyah hilal kali ini juga ditandai dengan mulai beroperasinya sistem live-streaming rukyah, antara titik-titik rukyah tertentu dengan Gedung PBNU di Jakarta. 
Isi Lengkap :

Hingga hari ini, bulan Ramadhan 1438 H di Indonesia sudah berjalan selama 6 hari. Aktivitas pengurus LFNU dalam segala tingkatan, baik di pusat / wilayah / cabang, terkait penentuan awal Ramadhan 1438 H telah mulai mereda. Menarik untuk menapaktilasi lagi bagaimana proses penentuan tersebut terlaksana. Selain sebagai bahan evaluasi, napak tilas tersebut sekaligus juga untuk menyiapkan kegiatan sejenis dalam penentuan Idul Fitri 1438 H mendatang. 

Telah menjadi pedoman Nahdlatul 'Ulama bahwa kepastian penentuan puasa Ramadhan menunggu hasil rukyah dan sidang itsbat. Demikian yang ditegaskan KH Ghozalie Masroeri selaku Ketua Lembaga Falakiyah PBNU dalam keterangan pers-nya pada Rabu 28 Sya'ban 1438 H (24 Mei 2017) silam. Dalam konteks tersebut, maka Nahdlatul 'Ulama melalui LFNU menyelenggarakan rukyah hilal di segenap penjuru Indonesia, yang mencakup tak kurang dari 125 titik (lihat di sini). Gawe besar tersebut dilaksanakan di bawah tema: memperluas jaringan rukyah, memperkuat ukhuwah wathoniyah untuk ketahanan nasional. 

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa rukyah hilal (observasi hilal) merupakan dasar penentu bagi awal Ramadhan dan juga hari raya Idul Fitri (awal Syawwal) mendatang. Sementara hisab (perhitungan astronomis posisi hilal) memiliki sifat prediktif dan digunakan Nahdlatul 'Ulama sebagai bahan untuk membantu pelaksanaan rukyah. Jadi hisab tidak diposisikan untuk menggantikan rukyah. 

Melalui pertemuan di Jepara (Jawa Tengah) menjelang Ramadhan 1437 H, Lembaga Falakiyah Nahdlatul 'Ulama (LFNU) telah menyiapkan data hisab untuk tahun 1438 - 1440 H. Termasuk  untuk awal Ramadhan 1438. Hisab yang dipergunakan disebut hisab jama'i, yakni sebuah sistem hisab yang merupakan produk penyerasian dari 9 sistem hisab yang digunakan dalam Nahdlatul 'Ulama. Kesembilan sistem hisab tersebut merentang mulai dari kelompok hisab haqiqy tahqiqi hingga haqiqy bittahqiq (kontemporer). 

Untuk markaz Jakarta, hisab jama'i Nahdlatul 'Ulama untuk 29 Sya'ban 1438 H menghasilkan data berikut. Ijtima' atau konjungsi geosentrik Bulan dan Matahari terjadi pada Jumat Legi (26 Mei 2017) pukul 02:45:47 WIB. Pada saat Matahari terbenam, Matahari berkedudukan pada 21º 13' 56" di sebelah utara dari Titik Barat (atau pada azimuth 291º 13' 56"). Saat itu tinggi hilal adalah 8º 26' 15" terhitung dari ufuk mar'i (horizon semu) hingga ke tepi bawah cakram Bulan. Letak hilal berada di 19º 08' 50" di sebelah utara dari Titik Barat (atau azimuth 289º 08' 50"). Terhadap Matahari, kedudukan hilal adalah 2º 05' 06" di sebelah selatan Matahari. Atau dengan kata lain, selisih azimuth antara Bulan dan Matahari pada saat itu adalah 2º 05' 06". 

Selain di markaz, mulai tahun 1438 H ini LFNU juga berinovasi untuk menghisab posisi Bulan di seluruh penjuru Indonesia yang hasilnya dinyatakan dalam sebuah peta kontur tinggi Bulan. Untuk awal Ramadhan 1438 H, peta tinggi Bulan-nya adalah sebagai berikut : 



Gambar 1. Peta tinggi Bulan untuk rukyah hilal awal Ramadhan 1438 H menurut hisab jama'i Nahdlatul 'Ulama 

Nampak dalam peta tersebut bahwa tinggi Bulan di Indonesia pada 29 Sya'ban 1438 H (26 Mei 2017) adalah berkisar antara 6º hingga 8,62º. Apabila rukyah hilal pada saat itu dapat mendeteksi/melihat hilal, maka menjadi penentu bahwa tanggal 1 Ramadhan 1438 H jatuh pada hari Sabtu Pahing yang bertepatan dengan tanggal 27 Mei 2017 (mulai malam Sabtu). Namun apabila hilal tak terlihat maka bulan Sya'ban akan diistikmalkan atau digenapkan menjadi 30 hari.   


Rukyah Hilal, Hasil dan Ujicoba Live-Streaming

Dalam pelaksanaan rukyah hilal, dari sekitar 125 titik rukyah yang berada di bawah koordinasi LFNU, terdapat 5 (lima) titik yang melaporkan terlihatnya hilal. Masing-masing adalah di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat), Bukit Condrodipo (Jawa Timur), Tanjung Kodok (Jawa Timur), Blitar (Jawa Timur) dan Pedalen (Jawa Tengah). Di kemudian hari masuk juga laporan bahwa hilal juga terlihat dari Kep. Seribu (DKI Jakarta), yang disaksikan oleh perukyat NU meski lokasi ini tidak berada di bawah koordinasi LFNU. 



Gambar 2. Salah satu teleskop semi-otomatik dengan sistem kamera yang digunakan untuk rukyah hilal, berlokasi di Pantai Gebang (Cirebon).

Rukyah hilal dari Pelabuhan Ratu dilaksanakan di POB (Pos Observasi Bulan) Cibeas, Pelabuhan Ratu yang tercakup ke dalam Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat). Pelapor adalah KH Aang Yahya yang juga salah satu pengurus Lembaga Falakiyah PBNU. Hilal dilaporkan terlihat dengan mata telanjang namun tanpa detil lebih lanjut. Sementara rukyah hilal dari Bukit Condrodipo dilaksanakan di POB Condrodipo di Kabupaten Gresik (Jawa Timur) sebagai balai rukyah yang dikelola oleh Lembaga Falakiyah PCNU Gresik. Pelapornya ada 5 (lima) dan seluruhnya melapor hilal terlihat dengan mata telanjang. Kelima pelapor tersebut adalah ust Solahudin dan H. Inwanuddin (keduanya dari Lembaga Falakiyah PCNU Gresik), KH Azhar (dari ponpes al-Fatih), H. Abdullah Toyyib (dari ponpes Langitan) dan Rijaluddin (dari UIN Walisongo Semarang). Matahari diperhitungkan terbenam di Condrodipo pada pukul 17:20 WIB namun sudah tak terlihat sejak pukul 16:52 WIB akibat tutupan awan. Hilal dilaporkan terlihat lebih dari satu menit pasca ghurub, tepatnya pada pukul 17:22 WIB. Kondisi langit barat dilaporkan cerah. 

Sedangkan hilal yang terlihat dari Tanjung Kodok juga dilaporkan terlihat dengan mata telanjang. Rukyah hilal ini diselenggarakan di pantai Tanjung Kodok yang termasuk ke dalam Kabupaten Lamongan (Jawa Timur). Ada 4 (empat) pelapor, masing-masing H. Sholeh (Kepala Kantor Kemenag Lamongan), Dr. Harijah (Ketua Pengadilan Agama Lamongan), H. Syukri (Sekretaris Kecamatan Paciran) dan KH Suudil Azka (dari ponpes Nurul Huda). Tidak ada informasi lebih lanjut terkait kesaksian ini. Sementara dari Blitar (Jawa Timur) hilal dilaporkan terlihat oleh Nanik Puspitasari (dari MAN Wlingi) selama 1 menit dengan mata telanjang. Hilal dilaporkan terlihat pukul 17:24 WIB dengan langit barat dalam kondisi cerah. 



Gambar 3. Ufuk barat POB Pedalen Kebumen (Jawa Tengah) beberapa saat setelah Matahari terbenam

Dan laporan terakhir datang dari Pedalen, dari rukyah hilal yang digelar di POB Pedalen di Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Di tempat ini dilaporkan bahwa langit barat dalam kondisi cerah dengan sedikit tutupan awan. Meskipun tepat menjelang Matahari terbenam langit berubah menjadi sangat dinamis dengan tipuan angin yang kencang di ketinggian seperti terlihat oleh bergeraknya awan-awan dengan cukup cepat dari arah timur. Matahari diperhitungkan terbenam pada pukul 17:32 WIB. Namun sejak pukul 17:28 WIB Matahari sudah tidak nampak, indikasi ada awan yang relatif tebal tepat di ufuk barat. Terdapat 3 (tiga) pelapor, masing-masing Ma'rufin Sudibyo, Khusnan (dosen Unsyiq Wonosobo) dan Ahmad Yani. Hilal pertama kali terlihat pada pukul 17:40 WIB lewat eyepiece teleskop iOptron R-Cube 80 sebagai lengkungan pucat sangat tipis yang agak miring dibatasi oleh pita (band) horizontal warna jingga yang nampaknya adalah bagian dari awan cirrus di kaki langit barat.  Lewat teleskop, hilal terlihat selama 2 menit untuk kemudian kembali tertutupi awan relatif tebal. Sementara lewat mata telanjang, hilal dilaporkan terlihat di antara pukul 17:45 dan 17:50 WIB (saat itu posisi teleskop tergeser sedikit sehingga tak menghadap ke hilal lagi). Dengan mata telanjang, hilal terlihat sebagai goresan sangat tipis yang terjepit di antara dua lapisan awan. 

Di kemudian hari, komunikasi dengan Fajar Fachurohman (Lembaga Falakiyah PWNU DKI Jakarta) yang melaksanakan tugas rukyah di Kep. Seribu menyebutkan terlihanya hilal dari lokasi tersebut. Hilal terlihat melalui eyepiece teleskop iOptron R-Cube 80.



Gambar 4. Tampilan layar utama di NCC dalam live-streaming rukyah hilal awal Ramadhan 1438 H

Selain laporan yang lebih detil, hal lain yang membedakan rukyah hilal awal Ramadhan 1438 H dengan aktivitas sejenis sebelumnya adalah mulai diujicobanya live-streaming rukyah hilal. Aktivitas ini dipusatkan pada NCC (Nahdlatul 'Ulama Command Center) yang bermarkas di Gedung PBNU sebagai bagian dari upaya digitalisasi data-data NU dengan bekerja sama dengan sebuah provider seluler terkenal. Terdapat 7 (tujuh) titik rukyah hilal yang melaksanakan live-streaming dengan Ketua Umum PBNU di Jakarta, masing-masing Ponorogo, Cirebon, Condrodipo Gresik, Blitar, Ternate, NTB dan Sumenep Madura. Meski dipersiapkan secara mendadak hanya dalam tempo 1 hingga 2 hari saja, namun evaluasi oleh Sekjen PBNU Dr. H. Helmi Faishal Zaini menunjukkan bahwa hasilnya cukup memuaskan. 


     
Created By : marufins
Created Date : 31-May-2017
Updated By : marufins
Updated Date : 02-Jun-2017
     
   
 

     
   
Bantuan   Tentang Kami   Versi Website   Pengunjung   Login

Akses website ini sebanyak
102,804
Sejak Maret 2017

Copyright - 2017
v.1.0


Top